Monday, January 28, 2013

Asap Hitam Titik Api

Sy yakin beberapa orang yg membaca ini pasti akan menganggap sy latah krn menulis tentang ini. Tapi apa salahnya orang menulis? Kelatahan bukan sebuah kesalahan menurut sy.
Akhir2 ini hampir semua orang akan bergetar hatinya ketika mendengar nama Sondang Hutagalung. Orang yg bagi sebagian kalangan cukup nekat untuk membakar dirinya di depan istana beberapa waktu yg lalu. Bentuk perlawanan jenis barukah? Ternyata tidak.
Bunuh diri sebagai aksi protes sudah sering dilakukan dalam proses sejarah umat manusia. Sebut saja aksi bakar diri biksu Thich Quang Duc di Vietnam Selatan menentang pemerintahan masa perang. Atau Romas Kalanta di Lithuania, dan Milachi Ritscher di AS. Bahkan di tahun 2010 pun aksi bakar diri masih menjadi trend perlawanan. Mohammed Bouazizi dari Tunisia tercatat sebagai salah satu orang yg menentang pemerintahan Tunisia dengan aksi bakar diri. Dan peristiwa itu memang menjadi trigger revolusi Tunisia yg terjadi hari ini. Jadi, bakar diri sebagai aksi protes bukanlah hal baru.
Namun yg banyak orang pertanyakan adalah mengapa sampai keputusan bakar diri ini yg diambil oleh Sondang almarhum. Bukankah banyak aksi lain yg bisa dilakukan? Mungkin bagi Sondang itu jalan terbaik. Aksi protes yg dilancarkan lebih banyak terbentur di pagar betis polisi huru hara dan dipukul balik oleh pentungannya. Mungkin orasi dan teatrikal bukan lg media protes yg baik bagi Sondang.
Mungkin dengan membakar diri di depan istana Sondang ingin membuka mata rakyat Indonesia bahwa kita tidak sedang baik2 saja. Kita sedang dalam masalah. Kita sedang ditipu oleh angka2 tentang kemajuan Indonesia hari ini. Semua angka itu bohong. Tidak ada kemajuan bagi kita, yang ada hanya hutang. Dana hibah pun sifatnya pinjaman. Gerakan separatis dimana2. Persatuan bukan lagi milik rakyat Indonesia.
Lalu mengapa mesti di depan istana? Ya karena di dalam istana itulah bercokol setiap orang yg menjadi momok bangsa ini. Yang menjadi beban bagi rakyat Indonesia. Yang menghambat kemajuan rakyat Indonesia. Yang di setiap doa2 malamnya selalu mendoakan agar rakyat Indonesia semakin bodoh agar kekayaan mereka terus bertambah. Titik api sesungguhnya ada di dalam istana merdeka.
Api telah tersulut dan asap hitam telah mengepul. Revolusi harus berkobar walaupun harus lebih banyak Sondang lain yg menjadi kayu bakarnya. Titik api harus terus mengeluarkan asap hitam, agar seluruh dunia tahu kita tidak baik2 saja.
UNTUK SONDANG, UNTUK INDONESIA.

(diposkan setahun yang lalu di prayudasaid.tumblr.com)

For You

Aku tak peduli…
walaupun ada cewek lain yang lebih cantik
lebih gaul, lebih semok, lebih mantap.
Tak mungkin aku menilai penampilanmu,
penampilanku saja jarang ku peduli.
Aku katamu:
Anak jalanan,
perokok, jarang mandi,
bajunya itu - itu saja.
Tak ada yang menarik.
Aku bagimu:
Sahabat, Kakak,
Kekasih (mungkin).
Aku untukmu:
Tak pernah habis waktu memikirkanmu.
Jadi jangan salahkan aku tak memikirkan diriku.
Semuanya habis untukmu.
Aku bagiku:
Payah, serampangan.
Tidak punya banyak duit buat beli baju mahal untukmu.
Tidak punya kerjaan yang bisa kau banggakan.
Tidak punya teman orang terpandang yang bisa kau ceritakan pada teman - temanmu.
Kau bagimu:
Lengan besar,
Perut gendut,
Jerawatan,
Postur berantakan.
Tapi apa semua itu penting?
Karena kau bagiku:
Tanpa cela.

(diposkan setahun yang lalu di prayudasaid.tumblr.com)

Curhat Kapitalis Genital

Sudah kukira bakal beginilah akhirnya. Bukan aku yang salah tapi kau.
Pagi ini aku terbangun melihatmu sekali lagi tanpa sehelai benangpun. Masih memuaskanku seperti dulu. Hanya saja kini kau membosankan. Aku bosan dengan variasi permainanmu yang itu – itu saja. Aku bosan melihat tubuh yang itu – itu saja. Aku bosan melihat payudara yang menggantung lemas, perut yang bergelambir, dan kemaluan basah yang itu – itu saja. Tak lagi rapat, tak lagi nikmat. Ibarat rahang, oklusinya tak lagi sempurna. Terlalu sering mengalami dislokasi karena melahirkan. Dahulu sudah kuperingatkan kau untuk operasi caesar bukan? Bukan supaya kau tak merasakan sakitnya melahirkan, itu cuma alasan saja. Semua karena aku tak mau hal ini terjadi. Kemaluanmu tak rapat, akupun tak puas.
Pagi hari selalu kuhabiskan meratapi nasib di kamar mandi. Duduk di kloset sambil berpura – pura melakukan tugas suci di pagi hari. Mengisap sebatang atau bahkan dua batang rokok supaya baunya kotorannya tak terlalu berasa. Sebenarnya bukan karena pencernaanku yang buruk sehingga aku berlama – lama. Hanya saja aku malas berlama – lama denganmu di pagi hari. Aku malas melihatmu menyiapkan sarapan sambil berkotek. Terlalu banyak keluhan, terlalu banyak permintaan. Padahal semua keinginanmu sudah kupenuhi. Anak kita belajar di sekolah yang terbaik, rumah kita yang termegah di kompleks ini, bahkan mobil, pakaian, dan perhiasan pun kau yang terbaik di antara ibu – ibu teman arisanmu yang sama memuakkannya. Ibu bapakmu pun aku yang membiayai pergi haji. Jadi kini kau tahu bahwa aku lebih nyaman bersama kotoran daripada dirimu.
Masuk kantor aku uring – uringan. Tak mungkin mood ku bagus bila setiap pagi bertemu nenek sihir penggerutu yang bahkan di malam hari pun tetap menjadi nenek – nenek tak punya gairah. Detik, menit, dan jam berjalan sangat lambat mengikuti nasibku yang juga sepertinya sangat lambat. Namun yang tak pernah kau tahu, aku selalu sudah check out dari kantor saat jam makan siang dan melanjutkan pekerjaanku di hotel kelas melati. Check in.
Awalnya aku berusaha menjadi suami yang setia. Jujur saja akupun tak nyaman setiap kali berhadapan dengan resepsionis hotel yang sepertinya sudah bosan untuk bertanya hal yang sama bila ada yang memesan kamar transit. Namun otakku sudah lama bergeser dari kepala ke kemaluan. Seperti pula dirimu yang menyimpan otak dalam tas belanjaan. Aku tak tahu bagaimana caranya dirimu bisa orgasme setiap membelanjakan uangku. Tapi aku tahu kau mengalaminya. Aku melihat tubuhmu gemetar dan suaramu menjadi serak setiap kali kau merogoh dompetmu untuk membelanjakan uangku. Dan aku tahu itulah puncak orgasmemu. Aku mengenali reaksi seksualmu sayang.
Aku juga tahu kau menyewa detektif swasta untuk membuntutiku setiap hari. Tapi maaf beribu maaf sayang, uangmu tak ada apa – apanya dibanding uangku. Detektif itu ada di kamar sebelah menitipkan cairannya pada perempuan langganannya. Darimana dia mendapatkan uangnya? Tak usah penasaran, kau tahu jawabannya. Aku.
Malam ini kau kutinggalkan bukan karena aku tak suka lagi padamu. Aku suka padamu. Seperti aku menyukai perempuan itu, yang kunikmati tubuhnya setiap hari dikala tubuhmu hambar kurasakan. Aku pergi dengannya bukan karena aku benci pada anak – anak yang kau berikan. Aku menyayangi mereka. Seperti sayangnya aku pada anakku yang dikandung perempuan itu. Tak apa kau menyumpah. Akupun yakin suatu saat akan bosan dengan perempuan ini. Tapi aku yakin akan tetap ada perempuan lain yang setia mengantri untuk kunikmati tubuhnya dengan harga yang pantas.
Saat kau membaca surat ini, pasti aku sudah jauh. Jangan mencariku karena aku takkan kembali.
Dan kukira, begitulah akhirnya.
###
Sudah kukira bakal beginilah akhirnya. Bukan aku yang salah tapi kau.
Aku tahu setiap pagi kau terbangun dengan wajah lesu setelah gagal meraih kenikmatan pada malam kau menagihnya dariku. Akupun paham kau meminta jatah hanya karena perempuan itu kedatangan tamu bulanan. Aku hanya heran melihatmu masih tahan dengan tubuhku yang aku yakin tidak semenggairahkan dahulu. Akupun bosan melihat payudara yang menggantung lemas, perut yang bergelambir, dan kemaluan basah yang itu – itu saja. Tapi apakah kau sadar aku lebih bosan melihat kemaluanmu yang juga itu – itu saja? Bahkan untuk ereksi pun kau harus minum obat kuat lebih banyak 3 kali dari dosis yang dianjurkan. Ibarat rumah, kau membangunnya tanpa pondasi. Entah karena terlalu sering dipakai, atau kau yang memang sudah payah. Belum lagi perutmu yang maju sangat jauh dari ukuran normal. Kau bagaikan perempuan yang mempunyai payudara tetapi lengketnya bukan di dada melainkan di perut. Dahulu sudah kuperingatkan untuk berolahraga, tapi kau malah sibuk bersenang – senang. Hal ini makin membuat malam kita tak pernah maksimal karena terganjal perutmu saat kau menindihku. Dan aku yakin semua perempuan yang pernah bersamamu di hotel kelas melati itu juga merasakan yang sama. Kemaluanmu tak tegang, perutmu besar, akupun tak puas.
Pagi hari aku selalu bangun lebih awal agar kau tak perlu berlama – lama di kamar mandi. Aku tahu kau melakukannya untuk menghindari mengobrol di pagi hari denganku. Dan akupun tahu sia – sia membujukmu dengan makanan lezat. Perutmu tak lapar, kemaluanmu yang lapar.
Ketika kau pergi ke kantor, aku berusaha menghabiskan semua harta yang kau berikan agar kau makin keras bekerja. Aku melakukannya agar kau punya alasan bekerja lebih lama di luar. Seharusnya kau berterimakasih padaku karena membantumu mencari alasan menghindariku. Lebih lama kau tak bersamaku, lebih bahagia dirimu. Aku tahu itu. Dan aku selalu bahagia melihatmu bahagia.Setiap kali kubelanjakan uangmu tubuhku bergetar dan suaraku serak, tapi bukan karena aku senang. Tapi karena aku tahu betapa sulitnya kau mencari uang ini. Aku tahu kau tak senang jika aku belanja berlebihan. Tapi apa aku punya pilihan lain?
Awalnya aku menyewa detektif itu untuk membuntutimu, agar aku tahu apa saja yang kau lakukan. Aku butuh lebih dari 2 mata untuk menemukanmu. Namun lama – lama aku merasa dia lebih berguna untuk memuaskanku daripada membuntutimu. Apa kau tak tahu bahwa kita selalu berlomba meraih kenikmatan pada waktu yang sama di dalam kamar yang berbeda di hotel itu? Dan apa kau tahu darimana dia mendapatkan uangnya? Tak usah penasaran, kau tahu jawabannya. Kau sayang.
Malam ini kau kutinggalkan bukan karena aku tak suka lagi padamu. Aku suka padamu. Seperti aku menyukai detektif itu, yang kunikmati keperkasaannya kapanpun aku mau. Aku pergi dengannya bukan karena aku membenci benih – benih yang pernah kau titipkan di rahimku. Aku menyayangi mereka. Hanya saja, hari ini ada benih lain yang harus kurawat di dalam rahimku. Tak apa kau menyumpah. Akupun yakin suatu hari detektif ini hanya akan menjadi seorang detektif tanpa keperkasaan lagi. Tapi aku yakin akan tetap ada lelaki yang rela mengorbankan keperkasaannya yang ditukar dengan segepok uang.
Saat kau membaca surat ini, pasti aku sudah jauh. Jangan mencariku karena aku takkan kembali.
Dan kukira, begitulah akhirnya.
###
Sudah kukira bakal beginilah akhirnya. Lalu mengapa harus ada yang disalahkan?
Aku bangun pagi ini, bersiap – siap, dan menunggu pacarku menjemputku ke sekolah. Dia anak yang baik. Dia selalu mengira aku juga gadis baik – baik. Tak pernah sekalipun dia menciumku. Memegang tanganku pun dia takut.
Aku selalu menggodanya melakukan hal yang semestinya dilakukan orang pacaran jaman sekarang. Berciuman misalnya, bahkan lebih dari itupun aku siap. Mungkin aku begini karena dia bukan yang pertama. aku selalu menikmati menggodanya saat kami punya kesempatan berdua. Pernah sekali kupaksa dia melakukannya di kamar kost ku. Awalnya dia gemetar karena gugup, tapi akhirnya dia bisa rileks juga. Namun pertahanannya jebol kurang dari semenit sejak dia mulai memasukkan kemaluannya di dalam milikku. Celakanya lagi aku lupa memasangkan kondom kepadanya, padahal hari itu masa suburku. Saat itu dia hanya mampu berkata, “Aku mencintaimu, Yanti”.
Aku memacarinya memang bukan murni karena cinta. Tapi selain tampan aku juga menyukai keroyalannya terhadap diriku. Dia suka membelanjakanku, mulai dari makan bakso di pinggir jalan, hingga jalan – jalan ke luar kota. Tapi uangnya tak mampu membeliku sepenuhnya untuk dia. Aku juga berkelana dari satu kamar hotel ke kamar hotel lainnya. Mulai dari bercinta di bath tub, hingga sofa bulu angsa di kamar suite hotel bintang lima telah kucoba. Berbagai macam model pelanggan sudah kurasakan. Mulai dari pekerja kantoran yang pas – pasan, hingga pejabat tinggi yang royal sekalipun. Tak ada yang menolak jika kupasang tarif tinggi, tak ada yang menolak tubuh anak SMA yang segar sepertiku.
Pelanggan paling royal ku adalah om – om yang kutaksir seumur dengan mendiang ayahku. Dia membiayaiku mulai dari baju, handphone, bahkan sampai kamar kost mewah yang kutempati hari ini. Aku tahu dia bukan orang sembarangan, yang aku herankan dengan uang yang dia miliki kenapa dia hanya menyewa hotel kelas melati ketika membooking ku.
Kemarin sepulang sekolah aku mual. Tapi berusaha kutahan karena om itu memanggilku ke tempat yang biasa. Memang hampir tiap hari sepulang sekolah dia langsung minta dilayani. Aku tidak melayaninya hanya pada saat aku datang bulan. Di luar hari itu aku harus selalu siap. Namun saat tiba di hotel aku langsung muntah. Wajahku pucat dan tubuhku limbung. Kejadian ini membuat om curiga dan bertanya padaku. Akupun menjawab sekenanya bahwa aku hamil dan ini anaknya, sekalipun sebenarnya ini anak pacarku.
Hari ini om melarangku ke sekolah karena dia berencana membawaku pergi. Ia bilang sebaiknya aku pindah dari kota ini untuk menghindari fitnah. Padahal aku tahu dia membawaku keluar dari kota hanya supaya tidak ketahuan istrinya. Sebelum pergi aku merasa berkewajiban memberitahu pacarku untuk tidak mencariku lagi. Tapi karena handphone ku sudah diambil om sejak semalam, maka aku meminjam handphone om dengan alasan memberitahu keluargaku bahwa aku akan pindah.
Lalu kukirimkan sms padanya, “Tak usah mencariku lagi, aku sudah pergi bersama orang lain. Kita putus. Yanti ”.
Dan kukira, begitulah akhirnya.
###
Sudah kukira bakal beginilah akhirnya. Aku tak tahu siapa yang salah.
Aku tak tahu mengapa ayah selalu berlama – lama di kamar mandi pada pagi hari. Tapi tak apa selama sarapan selalu tersedia lebih awal. Aku tiap hari harus ke sekolah buru – buru untuk menjemput pacarku. Sehingga ada baiknya jika sarapan selalu tersedia lebih awal. Tapi pagi ini pacarku tak bisa dihubungi.
Pagi ini di sekolah semua seperti biasa. Guru menjelaskan, teman – temanku bermain dan bercanda, bujang sekolah masih menjadi jongos, bahkan preman di sekitar sekolah masih juga memalaki siswa – siswa culun yang ada. Hanya saja pacarku tak masuk sekolah.
Aku tak tahu mengapa orang tuaku selalu sibuk. Tapi tak jadi masalah bila semua kebutuhanku terpenuhi. Seperti hari ini sepulang sekolah aku janji mentraktir teman – temanku makan di luar. Uang sudah di tangan, tinggal membuat kesepakatan dimana sebaiknya kuhabiskan uang ini. Tapi aku masih berpikir kemana pacarku sejak tadi tak bisa dihubungi.
Aku baru tiba di rumah sekitar pukul 11 malam ketika kutemukan secarik kertas di meja makan dan secarik lagi di ruang tamu dari ayah dan ibuku. Pacarku masih tak bisa dihubungi. Aku tahu mereka akan pergi untuk waktu yang sangat lama hingga urusan mereka selesai. Aku bahkan tak tahu di kemudian hari bakal ikut siapa. Namun tak jadi masalah bila semua kebutuhanku terpenuhi. Tapi kemana pacarku sekarang?
Lalu ada sms masuk ke handphone ku. Dari ayahku. Katanya, “Tak usah mencariku lagi, aku sudah pergi bersama orang lain. Kita putus. Yanti ”. Langit runtuh.
Aku sadar inilah akhirnya. Dan aku sungguh tak tahu siapa yang salah.
Makassar, 25 April 2011

(diposkan setahun yang lalu di prayudasaid.tumblr.com)
mencoba menulis cerpen dan akhirnya sy sadar sy tidak cocok

Mau Jadi Apa Saya Ini?

Tidur dan matahari pagi yang cerah memang bukan perpaduan yang serasi. Tapi hari ini seperti biasa saya tetap melakukannya. Padahal alarm handphone bersahut-sahutan berteriak tanpa belas kasihan ingin membangunkan saya. Belum lagi dering telepon dan nada sms masuk dari teman-teman yang mengingatkan untuk segera beranjak ke kampus. Hal ini telah terjadi berhari-hari. Lalu dimana saya saat itu? Alam mimpi.
Mau jadi apa mahasiswa yang tiap hari bangunnya siang? Yang hobinya cuma main dan jalan-jalan. Harusnya saya bangun pagi dan menikmati hari. Tapi instead of facing the day, i prefer to sleep. Mau jadi apa saya ini.
Terbangun di sore hari saya mandi dan ke cafe. Menikmati secangkir kopi sambil melihat matahari terbenam di batas horizon pantai losari. Dengan siapa? Tidak dengan siapapun. I need a space for myself today. Sampai kapan? Tidak tahu. Lalu mau jadi apa saya ini.
I’m tired. Really tired. Mungkin malam ini saya akan stay di gorky park. Atau menghubungi seorang sahabat untuk menumpang di garden of eden. Atau mungkin saya akan tetap di cafe ini dan merenung, mau jadi apa saya ini…

(diposkan setahun yang lalu di prayudasaid.tumblr.com)
sampai sekarang pun masih berpikir mau jadi apa saya ini... 

Memori Subuh Hari

Tik.tik.tik…bunyi hujan
Tik.tik.tik…pesan terkirim
Tik.tik.tik…twit terkirim
Tik.tik.tik…bunyi hujan (lagi)
Kau tahu aku merindu
Akupun tahu kau merindu
Bukan rindu yg biasanya
Tapi rindu hebat yg mampu guncangkan fajar pagi
Dan hanya dirimu yg mampu menawarkan racun rindu ini
Lalu…
Tit.tit.tit…1 pesan diterima

(diposkan setahun yang lalu di prayudasaid.tumblr.com)

Welcome Back

halo semuanya, ini blog lama yg di reborn. ada beberapa post yg dihapus krn kelewat alay. semoga post2 setelah ini tidak alay lagi. oh iya, ada beberapa post yg akan sy import dari blog cadangan sy setelah post ini. Enjoy!

Tuesday, July 14, 2009

tulisan pendek tentang pendidikan yang tidak pendek

pendidikan tidak pendek. atau dalam bahasa resminya disebut pendidikan tinggi. pendidikan tinggi ini sangat penting kedudukannya dalam departemen pendidikan. bahkan ada direktorat hjenderal khusus untuk menangani bidang ini. namanya Ditjen DIKTI.

tidak. dalam tulisan ini kita tidak akan membahas tentang kinerja dikti sampai dimana. bukan juga membahas UU BHP yang masalahnya belum selesai2. di tulisan ini saya ingin membahas yang lebih kecil daripada itu semua. karena kata AA Gym, mulailah dari yang kecil - kecil.

saya hanya ingin membahas tentang TRI DARMA PERGURUAN TINGGI.
tri darma perguruan tinggi ini terfiri dari :

1. pendidikan
2. penelitian
3. pengabdian pada masyarakat.

semua mahasiswa pasti tau ini. hapal di luar kepala pastinya. tapi apa benar hapal aplikasi dari tri darma ini?

hmmm......
kyknya tidak.kebanyakan dari mahasiswa ini sudah dicekoki pahaman birokrat yang mengkerdilkan tri darma ini.

memangkas pendidikan hanya menjadi aktifitas kuliah saja. memotong kaki penelitian menjadi hanya mengerjakan skrisi saja. dan mengkandangkan pengabdian pada masyarakat di dalam lembaga KKN. dengan kondisi yang seperti ini, kehidupan perguruan tinggi menjadi sangat monoton. tanpa dinamika yang berarti dalam kehidupan sehari harinya.

bagaimana mungkin pendidikan yang sangat luas cakupannya hanya menjadi aktifitas kuliah. itupun kebanyakan hanya mendengarkan ceramah dosen dan ujian di akhir semster. soal - soalnya pun diambil dari diktat yang dijual pribadi oleh dosen. dan jaminan kelulusan diberikan kepada orang - orang yang membeli diktat.

begitu juga denganpenelitian alias kerja skripsi. kebanyakan orang hanya mengambil skripsi tinjauan pustak. hanya sedikit yang mencoba melakukan penelitian. itupun klo ada yang berani pasti karena sudah ada judul dan bahan yang diambil dari universitas lain klo kebetulan ada kenalan disana. yah, semua "bisa" klo ada "kemauan". akhirnya yang ada hanya skripsi hasil plagiat dari karya orang.

belum lagi KKN yang merupakan pengejawantahan birokrat universitas tterhadap pengabdian masyarakat. tidak mungkin dalam 40 hari orang - orang dapat melakukan pengabdian secara tunttas di masyarakat. karena hal ini dipahami mahasiswa kebanyakan hanya sebatas aktifitas untuk menggugurkan kewajiban saja. terbukti dengan banyaknya keluhan homesick dari mahasiswa peserta KKN. belum lagi penganggaran dana yang tidak transparan dari penyelenggara KKN. sehingga KKN ini disinyalir hanya proyek universitas untuk mendapatkan dana tambahan korupsi saja.

carut marut pendidkan hari ini seharusnya tidak bisa lagi ditolerir oleh semua kalangan. tpai kenapa semua orang menututp mata?

bayangkan saja ketika mahasiswa baru masuk dan didoktrin hanya untuk mengikuti kegiatan perkuliahan dan ketika sampai waktunya, maka harus KKN dan menyelesaikan skripsi. dikarbit untuk menjadi birokrat baru yang mencekoki hal yang sama kepada generasi mendatang. bahkan bisa saja lebih buruk.

pengkerdilan yang seperti ini sangat tidak baik untuk generasi kita. karena pada akhirnya tri darma yang seharusnya bertujuan mulia ini menjadi hanya sebagai aktifitas pengguguran kewajiban. bukan sebagai program mendidik yang diharapkan dapat menarik minat peserta didik untuk dapat melanjutkan program ini setelah selesai dalam proses pendidikan di universitas.

semoga ada perbaikan dalam aplikasi tri darma perguruan tinggi ini. semoga ada peninjauan kembali terhadap pengaplikasian ini. agar kekerdilan pemahaman ini tidak terjadi secara berkelanjutan.

DEMI PENDIDIKAN YANG LEBIH BAIK.
DEMI INDONESIA YANG LEBIH BAIK....

Thursday, June 11, 2009

Idealisme Plato dan Bahasa Inggris


judul yang aneh.
pasti itu yang terpikir begitu membaca judulnya.tapi memang ada benarnya.bahasa inggris ternyata banyak mendukung mazhab pemikiran idealisme.terutama idealisme plato.

kenapa saya berani berkata begini?
karena idealisme plato menitikberatkan pada bagaimana seseorang pernah hidup di alam ide kemudian turun ke alam manusia dan bersatu dengan jasad. sewaktu di alam ide, manusia sudah mengetahui keseluruhan ilmu karena berakal murni.tetapi setelah bersatu dengan jasad, terjadi proses pelupaan. oleh karena itu ketika manusia menginderai atau memproses sesuatu dalam akal, orang - orang bermazhab pemikiran idealisme plato menyebutnya sebagai "PROSES PENGINGATAN KEMBALI"

lalu apa hubungannya dengan bahasa inggris?
ada.mari kita lihat...

saya akan mengambil 1 sampel kata yang terdekat dengan "mengetahui"

RECOGNIZE = mengenal

asal katanya adalah cognite yang artinya tahu.dapat pula dikembangkan menjadi cognition yang artinya pengetahuan.dan arti dari "re" sendiri adalah kembali atau pengulangan. sehingga jika diartikan sebagai frase akan kita dapatkan kata " PENGETAHUAN KEMBALI". tetapi bahasa inggris kemudian menamakannya mengenal atau pengenalan.

dari analisa 1 kata di atas, dapat dilihat kalau ternyata orang - orang yang menciptakan bahasa inggris adalah orang - orang yang menganut mazhab idealisme plato

mungkin saya terkesan sangat terburu - buru dalam mengambil kesimpulan. apalagi dengan hanya satu buah sampel sebagai variabel penelitiannya. tetapi selalu ada hipotesa awal untuk setiap teori yang muncul. dan akan selalu ada antitesa terhadap sebuah hipotesa. sehingga didapatkan sintesa yang sempurna terhadap sebuah teori.

SELAMAT BERNALAR...



P.S : this writing is tributed to KANDA UMAR SYARIF S.KG. seorang manusia yang mencoba melihat dunia dengan paradigma berbeda. seorang guru yang mengajar banyak hal dengan cara yang berbeda. dan seorang sahabat yang akan selalu dikenang oleh orang - orang di sekelilingnya.semoga amal ibadahnya diterima di sisi ALLAH SWT. SELAMAT JALAN KANDA...

Thursday, June 04, 2009

Tentang Keberanian

Kalau mati dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya kita terjajah.
-Pramoedya Ananta Toer-

Kalimat ini sudah berkali – kali kembali dalam pikiran saya. Itu sebabnya saya mencoba menulis tentang ini. Kalimat BERANI ini cukup “hidup” dalam pikiran saya. Tapi sebenarnya apa berani itu?
Apa dengan memasang badan dan meneriaki semua orang maka itulah keberanian? Atau ketika tidak mempunyai rasa takut itulah berani?
Hidup rasanya selalu mempertemukan kita dengan sesuatu yang berpasangan. Termasuk rasa berani dan rasa takut. Tapi sekali lagi “rasa” yang berpasangan ini tidak mempunyai indicator yang jelas. Tidak memiliki pemahaman yang rigid. Tidak ada yang pernah bisa menjelaskan secara verbal apa pengertian takut dan berani itu sendiri.
Saya punya pengalaman lagi tentang rasa takut. Ada seorang teman sewaktu sekolah di SD dulu, dia orangnya cukup penakut. Tapi keluarganya cukup berada, jadi dia bisa membawa uang saku yang ‘lebih’ di antara teman – teman sekelas pada waktu itu. Tapi karena dia bisa dibilang penakut, maka dia harus menyetor hampir setengah dari uang jajannya ke salah satu teman sekelas juga yang cukup jawara di kelas (bukan juara).
Pada suatu hari, teman kita yang penakut ini (sebut saja A) membeli mainan hasil dari membujuk orang tua selama berbulan – bulan. Dan sehari setelah membelinya, dia membawanya ke sekolah untuk dipamerkan. Kami anak – anak yang hanya dari keluarga pas – pasan pastinya jadi “kampungan” melihat mainan yang seperti itu. Sehingga kami hanya bisa melihat dan menonton si A memainkan mainan barunya. Waktu itu teman kita yang jawara (sebut saja si B) tidak masuk sekolah, sehingga kami dapat kesempatan untuk meminjam mainan ini seorang 5 menit dengan membayar Rp 100,-.
Keesokan harinya, kami masih juga mengantri untuk meminjam mainan ini karena sudah terlanjur membayar kemarin tapi waktu sekolah telah selesai. Sehingga kami dijanjikan akan dipinjami lagi hari ini. Tetapi mungkin ketidakberuntungan berpihak pada kami. Si B masuk sekolah sehingga kami harus merelakan uang jajan yang kemarin hangus karena Si B menyita mainan yang ‘berharga’ ini dari kami. Dia memainkan mainan ini seharian penuh di sekolah bahkan waktu guru sedang mengajar. Alhasil mainannya rusak.
Pada jam pulang sekolah, Si B mengembalikan mainan ini pada Si A dalam kondisi yang sudah tidak bisa dimainkan lagi. Si A karena terlalu sayangnya pada mainannya meminta ganti rugi terhadap Si B atas kerusakan tersebut. Mungkin dia lupa kalau Si B ini murid jawara di kelas kami. Si A mendesak sampai akhirnya mereka berdua berkelahi.
Bukan perkelahiannya yang mengagetkan. Bukan juga hasil kemenangan Si B yang sudah pasti terhadap Si A yang membuat kasihan. Hanya saja saya heran kenapa Si A yang sehari – harinya takut terhadap Si B bahkan menyetor “Uang Keamanan” sampai berani melawan pada hari itu. Kenapa tidak dari dulu saja dia melawan supaya tidak dirugikan banyak? Kenapa hanya hari ini?
Beberapa tahun kemudian saya membaca sebuah cerita tentang keberanian juga. Dan setelah membaca satu paragraph, saya mengerti kenapa pada saat itu orang yang penakut pun bisa melawan orang yang sehari – hari ditakutinya. Bukan tentang kemampuan fisik, bukan juga tentang sugesti super-hero ( waktu itu anak kecil suka mencontoh super-hero). Tapi karena sebuah keyakinan psikologis untuk membela dirinya, membela hak – haknya, membela apa yang seharusnya dibela. Dan paragraph yang tertulis di buku itu bunyinya kira – kira seperti ini :
“Keberanian bukanlah tidak mempunyai rasa takut. Tetapi mampu menghadapi rasa takut itu dan merubahnya menjadi kekuatan yang besar. Setiap orang wajib memiliki rasa takut. Karena tanpa rasa takut tidak akan muncul kewaspadaan. Karena keberanian tanpa kewaspadaan tidak jauh berbeda dengan kenekatan. Keberanian sejati datang dari rasa ingin membela kata nurani. Bukan dari keinginan untuk menindas dan mempermainkan.”
Dan bagaimana nasib Si A setelah itu? Dia tidak pernah lagi dignggu oleh Si B. tidak pernah lagi harus menyetor uang jajannya. Tidak pernah lagi harus meminjamkan mainannya pada sang jawara. Inilah yang membuat saya yakin dengan kalimat Bapak Pram tentang keberanian yang saya tulis di atas tadi. Ketika kita memiliki keberanian, niscaya kita terhindar dari keterjajahan.

Makassar, 3 Juni 2009

Wednesday, May 06, 2009

PANGILAN JIWA

sy selalu terkesan dengan orang2 yang mengikuti panggilan jwanya.rasanya kyk bgimana yah....
pasti mereka menikmati hidupnya dengan sangat sempurna.even, di dlm ketidaksempurnaan.at least mereka mencoba menikmati hidup...

seperti om wawan seorang pengusaha kecil di dpn kompleks yang katanya "susah adaptasi dengan kerja kantoran".cukup gila juga di jaman sekarang yang semua orang2nya berharap bisa kerja di kantor yang nyaman dan ber-AC.tp dia tidak.
tiap hari kerjaannya cm berkutat di meja "kerja"-nya membuat kerajinan tangan apa saja.dia menyebutnya "KERJA".
om wawan ini tidak bisa diblg pengangguran jg.dulu sebelum jd pengusaha dia konsultan akuntan yang cukup sukses klo sy liatnya.stlh dia resign dari kerjaannya itu, dia berkeluarga dan mulai membuka usaha rental playstation yang waktu itu cukup tinggi pasarannya. dari situ dia mulai membuka usaha macam2 lagi. dari toko kelontong, sampai usaha cuci mobil dan press ban.
katanya usaha sambil mengerjakan hobby itu asik.semua kerajinan yang klo sy liatnya lebih mirip prakara anak sekolah bertebaran di sekitar tokonya.ada yang dijual, ada jg yang cm jadi koleksi pribadi.
oh iya, om wawan tidak menerima pesanan. karena "HOBBY"-nya dikerjakan berdasarkan mood jg. kadang klo lg tidak mood, dia cm duduk2 sj ikut2 main sm anak2 sekitar situ yang belakangan dia pekerjakan jadi tukang press ban n cuci mbil. "daripada ganggur", itu katanya.

ada juga teman kampus yang namanya tesa.orangnya asik.kadang konyol.kali ini panggilan jiwanya bkn di prakarya.tp musik. dia bassist band metal yang paling jago yang pernah sy liat (sy cm pernah ktemu 1 bassist band metal).
kuliah di FKG yang katanya sibuk tidak bikin dia lupa sm panggilang jiwanya. beberapa lagu sudah dia tulis. bahkan kadang orderan manggung pun da terima. dan kuliahnya, dia salah satu orang yang selalu lulus mata kuliah yang orang bilang susah.dia menyebut panggilan jiwanya "NGEBAND".

trus 1 lg teman sy.namanya ratna.sy kurang bgitu akrab sm dia. tp sy tau dia pemanjat dinding yang rajin. dia menyebut panggilan jiwanya "MANJAT".

itu beberapa orang yang sy knal yang datang memenuhi panggilan jiwanya.
so, dmana panggilan jiwamu?
show us what u do....