Monday, January 28, 2013

Curhat Kapitalis Genital

Sudah kukira bakal beginilah akhirnya. Bukan aku yang salah tapi kau.
Pagi ini aku terbangun melihatmu sekali lagi tanpa sehelai benangpun. Masih memuaskanku seperti dulu. Hanya saja kini kau membosankan. Aku bosan dengan variasi permainanmu yang itu – itu saja. Aku bosan melihat tubuh yang itu – itu saja. Aku bosan melihat payudara yang menggantung lemas, perut yang bergelambir, dan kemaluan basah yang itu – itu saja. Tak lagi rapat, tak lagi nikmat. Ibarat rahang, oklusinya tak lagi sempurna. Terlalu sering mengalami dislokasi karena melahirkan. Dahulu sudah kuperingatkan kau untuk operasi caesar bukan? Bukan supaya kau tak merasakan sakitnya melahirkan, itu cuma alasan saja. Semua karena aku tak mau hal ini terjadi. Kemaluanmu tak rapat, akupun tak puas.
Pagi hari selalu kuhabiskan meratapi nasib di kamar mandi. Duduk di kloset sambil berpura – pura melakukan tugas suci di pagi hari. Mengisap sebatang atau bahkan dua batang rokok supaya baunya kotorannya tak terlalu berasa. Sebenarnya bukan karena pencernaanku yang buruk sehingga aku berlama – lama. Hanya saja aku malas berlama – lama denganmu di pagi hari. Aku malas melihatmu menyiapkan sarapan sambil berkotek. Terlalu banyak keluhan, terlalu banyak permintaan. Padahal semua keinginanmu sudah kupenuhi. Anak kita belajar di sekolah yang terbaik, rumah kita yang termegah di kompleks ini, bahkan mobil, pakaian, dan perhiasan pun kau yang terbaik di antara ibu – ibu teman arisanmu yang sama memuakkannya. Ibu bapakmu pun aku yang membiayai pergi haji. Jadi kini kau tahu bahwa aku lebih nyaman bersama kotoran daripada dirimu.
Masuk kantor aku uring – uringan. Tak mungkin mood ku bagus bila setiap pagi bertemu nenek sihir penggerutu yang bahkan di malam hari pun tetap menjadi nenek – nenek tak punya gairah. Detik, menit, dan jam berjalan sangat lambat mengikuti nasibku yang juga sepertinya sangat lambat. Namun yang tak pernah kau tahu, aku selalu sudah check out dari kantor saat jam makan siang dan melanjutkan pekerjaanku di hotel kelas melati. Check in.
Awalnya aku berusaha menjadi suami yang setia. Jujur saja akupun tak nyaman setiap kali berhadapan dengan resepsionis hotel yang sepertinya sudah bosan untuk bertanya hal yang sama bila ada yang memesan kamar transit. Namun otakku sudah lama bergeser dari kepala ke kemaluan. Seperti pula dirimu yang menyimpan otak dalam tas belanjaan. Aku tak tahu bagaimana caranya dirimu bisa orgasme setiap membelanjakan uangku. Tapi aku tahu kau mengalaminya. Aku melihat tubuhmu gemetar dan suaramu menjadi serak setiap kali kau merogoh dompetmu untuk membelanjakan uangku. Dan aku tahu itulah puncak orgasmemu. Aku mengenali reaksi seksualmu sayang.
Aku juga tahu kau menyewa detektif swasta untuk membuntutiku setiap hari. Tapi maaf beribu maaf sayang, uangmu tak ada apa – apanya dibanding uangku. Detektif itu ada di kamar sebelah menitipkan cairannya pada perempuan langganannya. Darimana dia mendapatkan uangnya? Tak usah penasaran, kau tahu jawabannya. Aku.
Malam ini kau kutinggalkan bukan karena aku tak suka lagi padamu. Aku suka padamu. Seperti aku menyukai perempuan itu, yang kunikmati tubuhnya setiap hari dikala tubuhmu hambar kurasakan. Aku pergi dengannya bukan karena aku benci pada anak – anak yang kau berikan. Aku menyayangi mereka. Seperti sayangnya aku pada anakku yang dikandung perempuan itu. Tak apa kau menyumpah. Akupun yakin suatu saat akan bosan dengan perempuan ini. Tapi aku yakin akan tetap ada perempuan lain yang setia mengantri untuk kunikmati tubuhnya dengan harga yang pantas.
Saat kau membaca surat ini, pasti aku sudah jauh. Jangan mencariku karena aku takkan kembali.
Dan kukira, begitulah akhirnya.
###
Sudah kukira bakal beginilah akhirnya. Bukan aku yang salah tapi kau.
Aku tahu setiap pagi kau terbangun dengan wajah lesu setelah gagal meraih kenikmatan pada malam kau menagihnya dariku. Akupun paham kau meminta jatah hanya karena perempuan itu kedatangan tamu bulanan. Aku hanya heran melihatmu masih tahan dengan tubuhku yang aku yakin tidak semenggairahkan dahulu. Akupun bosan melihat payudara yang menggantung lemas, perut yang bergelambir, dan kemaluan basah yang itu – itu saja. Tapi apakah kau sadar aku lebih bosan melihat kemaluanmu yang juga itu – itu saja? Bahkan untuk ereksi pun kau harus minum obat kuat lebih banyak 3 kali dari dosis yang dianjurkan. Ibarat rumah, kau membangunnya tanpa pondasi. Entah karena terlalu sering dipakai, atau kau yang memang sudah payah. Belum lagi perutmu yang maju sangat jauh dari ukuran normal. Kau bagaikan perempuan yang mempunyai payudara tetapi lengketnya bukan di dada melainkan di perut. Dahulu sudah kuperingatkan untuk berolahraga, tapi kau malah sibuk bersenang – senang. Hal ini makin membuat malam kita tak pernah maksimal karena terganjal perutmu saat kau menindihku. Dan aku yakin semua perempuan yang pernah bersamamu di hotel kelas melati itu juga merasakan yang sama. Kemaluanmu tak tegang, perutmu besar, akupun tak puas.
Pagi hari aku selalu bangun lebih awal agar kau tak perlu berlama – lama di kamar mandi. Aku tahu kau melakukannya untuk menghindari mengobrol di pagi hari denganku. Dan akupun tahu sia – sia membujukmu dengan makanan lezat. Perutmu tak lapar, kemaluanmu yang lapar.
Ketika kau pergi ke kantor, aku berusaha menghabiskan semua harta yang kau berikan agar kau makin keras bekerja. Aku melakukannya agar kau punya alasan bekerja lebih lama di luar. Seharusnya kau berterimakasih padaku karena membantumu mencari alasan menghindariku. Lebih lama kau tak bersamaku, lebih bahagia dirimu. Aku tahu itu. Dan aku selalu bahagia melihatmu bahagia.Setiap kali kubelanjakan uangmu tubuhku bergetar dan suaraku serak, tapi bukan karena aku senang. Tapi karena aku tahu betapa sulitnya kau mencari uang ini. Aku tahu kau tak senang jika aku belanja berlebihan. Tapi apa aku punya pilihan lain?
Awalnya aku menyewa detektif itu untuk membuntutimu, agar aku tahu apa saja yang kau lakukan. Aku butuh lebih dari 2 mata untuk menemukanmu. Namun lama – lama aku merasa dia lebih berguna untuk memuaskanku daripada membuntutimu. Apa kau tak tahu bahwa kita selalu berlomba meraih kenikmatan pada waktu yang sama di dalam kamar yang berbeda di hotel itu? Dan apa kau tahu darimana dia mendapatkan uangnya? Tak usah penasaran, kau tahu jawabannya. Kau sayang.
Malam ini kau kutinggalkan bukan karena aku tak suka lagi padamu. Aku suka padamu. Seperti aku menyukai detektif itu, yang kunikmati keperkasaannya kapanpun aku mau. Aku pergi dengannya bukan karena aku membenci benih – benih yang pernah kau titipkan di rahimku. Aku menyayangi mereka. Hanya saja, hari ini ada benih lain yang harus kurawat di dalam rahimku. Tak apa kau menyumpah. Akupun yakin suatu hari detektif ini hanya akan menjadi seorang detektif tanpa keperkasaan lagi. Tapi aku yakin akan tetap ada lelaki yang rela mengorbankan keperkasaannya yang ditukar dengan segepok uang.
Saat kau membaca surat ini, pasti aku sudah jauh. Jangan mencariku karena aku takkan kembali.
Dan kukira, begitulah akhirnya.
###
Sudah kukira bakal beginilah akhirnya. Lalu mengapa harus ada yang disalahkan?
Aku bangun pagi ini, bersiap – siap, dan menunggu pacarku menjemputku ke sekolah. Dia anak yang baik. Dia selalu mengira aku juga gadis baik – baik. Tak pernah sekalipun dia menciumku. Memegang tanganku pun dia takut.
Aku selalu menggodanya melakukan hal yang semestinya dilakukan orang pacaran jaman sekarang. Berciuman misalnya, bahkan lebih dari itupun aku siap. Mungkin aku begini karena dia bukan yang pertama. aku selalu menikmati menggodanya saat kami punya kesempatan berdua. Pernah sekali kupaksa dia melakukannya di kamar kost ku. Awalnya dia gemetar karena gugup, tapi akhirnya dia bisa rileks juga. Namun pertahanannya jebol kurang dari semenit sejak dia mulai memasukkan kemaluannya di dalam milikku. Celakanya lagi aku lupa memasangkan kondom kepadanya, padahal hari itu masa suburku. Saat itu dia hanya mampu berkata, “Aku mencintaimu, Yanti”.
Aku memacarinya memang bukan murni karena cinta. Tapi selain tampan aku juga menyukai keroyalannya terhadap diriku. Dia suka membelanjakanku, mulai dari makan bakso di pinggir jalan, hingga jalan – jalan ke luar kota. Tapi uangnya tak mampu membeliku sepenuhnya untuk dia. Aku juga berkelana dari satu kamar hotel ke kamar hotel lainnya. Mulai dari bercinta di bath tub, hingga sofa bulu angsa di kamar suite hotel bintang lima telah kucoba. Berbagai macam model pelanggan sudah kurasakan. Mulai dari pekerja kantoran yang pas – pasan, hingga pejabat tinggi yang royal sekalipun. Tak ada yang menolak jika kupasang tarif tinggi, tak ada yang menolak tubuh anak SMA yang segar sepertiku.
Pelanggan paling royal ku adalah om – om yang kutaksir seumur dengan mendiang ayahku. Dia membiayaiku mulai dari baju, handphone, bahkan sampai kamar kost mewah yang kutempati hari ini. Aku tahu dia bukan orang sembarangan, yang aku herankan dengan uang yang dia miliki kenapa dia hanya menyewa hotel kelas melati ketika membooking ku.
Kemarin sepulang sekolah aku mual. Tapi berusaha kutahan karena om itu memanggilku ke tempat yang biasa. Memang hampir tiap hari sepulang sekolah dia langsung minta dilayani. Aku tidak melayaninya hanya pada saat aku datang bulan. Di luar hari itu aku harus selalu siap. Namun saat tiba di hotel aku langsung muntah. Wajahku pucat dan tubuhku limbung. Kejadian ini membuat om curiga dan bertanya padaku. Akupun menjawab sekenanya bahwa aku hamil dan ini anaknya, sekalipun sebenarnya ini anak pacarku.
Hari ini om melarangku ke sekolah karena dia berencana membawaku pergi. Ia bilang sebaiknya aku pindah dari kota ini untuk menghindari fitnah. Padahal aku tahu dia membawaku keluar dari kota hanya supaya tidak ketahuan istrinya. Sebelum pergi aku merasa berkewajiban memberitahu pacarku untuk tidak mencariku lagi. Tapi karena handphone ku sudah diambil om sejak semalam, maka aku meminjam handphone om dengan alasan memberitahu keluargaku bahwa aku akan pindah.
Lalu kukirimkan sms padanya, “Tak usah mencariku lagi, aku sudah pergi bersama orang lain. Kita putus. Yanti ”.
Dan kukira, begitulah akhirnya.
###
Sudah kukira bakal beginilah akhirnya. Aku tak tahu siapa yang salah.
Aku tak tahu mengapa ayah selalu berlama – lama di kamar mandi pada pagi hari. Tapi tak apa selama sarapan selalu tersedia lebih awal. Aku tiap hari harus ke sekolah buru – buru untuk menjemput pacarku. Sehingga ada baiknya jika sarapan selalu tersedia lebih awal. Tapi pagi ini pacarku tak bisa dihubungi.
Pagi ini di sekolah semua seperti biasa. Guru menjelaskan, teman – temanku bermain dan bercanda, bujang sekolah masih menjadi jongos, bahkan preman di sekitar sekolah masih juga memalaki siswa – siswa culun yang ada. Hanya saja pacarku tak masuk sekolah.
Aku tak tahu mengapa orang tuaku selalu sibuk. Tapi tak jadi masalah bila semua kebutuhanku terpenuhi. Seperti hari ini sepulang sekolah aku janji mentraktir teman – temanku makan di luar. Uang sudah di tangan, tinggal membuat kesepakatan dimana sebaiknya kuhabiskan uang ini. Tapi aku masih berpikir kemana pacarku sejak tadi tak bisa dihubungi.
Aku baru tiba di rumah sekitar pukul 11 malam ketika kutemukan secarik kertas di meja makan dan secarik lagi di ruang tamu dari ayah dan ibuku. Pacarku masih tak bisa dihubungi. Aku tahu mereka akan pergi untuk waktu yang sangat lama hingga urusan mereka selesai. Aku bahkan tak tahu di kemudian hari bakal ikut siapa. Namun tak jadi masalah bila semua kebutuhanku terpenuhi. Tapi kemana pacarku sekarang?
Lalu ada sms masuk ke handphone ku. Dari ayahku. Katanya, “Tak usah mencariku lagi, aku sudah pergi bersama orang lain. Kita putus. Yanti ”. Langit runtuh.
Aku sadar inilah akhirnya. Dan aku sungguh tak tahu siapa yang salah.
Makassar, 25 April 2011

(diposkan setahun yang lalu di prayudasaid.tumblr.com)
mencoba menulis cerpen dan akhirnya sy sadar sy tidak cocok

No comments: