Beberapa hari yang lalu waktu nongkrong bareng
teman2, saya mendapatkan selebaran yang dibagi2kan ke semua orang di
tempat itu. Isinya tentang adanya ketersinggungan dari salah satu
komunitas etnis lokal terhadap komunitas lain yang dianggap tidak lokal.
Saya jujur saja tidak terlalu mengerti apa duduk perkaranya. Tetapi
kemudian hal ini menjadi lucu sekaligus meresahkan bagi saya. Mengapa
semakin banyak orang rasis di dunia ini.
Selebaran itu menghimbau kepada semua orang untuk ikut mengepung dan melakukan pengganyangan terhadap masyarakat beretnis cina karena telah melecehkan salah satu warga toraja. Sy kemudian bertanya, apa beda suku toraja dan cina hari ini? Mereka sama2 lahir disini, besar disini, hidup disini, sama2 makan nasi, minum jg dari sumber air yang sama. Tapi kenapa mesti ada yang pribumi ada yang pendatang? KTP pun sama2 keluaran Indonesia, tapi kenapa harus ada yang diganyang? Kenapa sensitifitas etnis selalu dijaga? Kenapa perbedaan selalu diperuncing?
Tadi sore saya sempat mengobrol dengan salah seorang kawan tentang masalah ini. Kami memperbincangkan soal banyaknya ekslusi antar etnis yang terjadi di Indonesia pada umumnya dan Makassar pada khususnya. Lucu juga mendengar bagaimana dengan gampangnya orang tersulut untuk melukai dan bahkan membunuh orang2 di luar etnisnya hanya karena masalah yang sebenarnya tidak akan seperti itu jika yang melakukan adalah sesama etnisnya. Saya jd ingat film “Rush Hour”. Bagaimana sangat berbeda respon orang2 kulit hitam waktu mendengar Chris Tucker yang berkata “What’s up my nigga?” dengan sewaktu Jackie Chan yang menyebutkannya. Kenapa orang begitu reaktif terhadap hal2 yang sebenarnya cukup sepele.
Kembali ke konflik pribumi dan non pribumi di Makassar. Konflik berbau rasial memang bukanlah hal yang pertama terjadi di Makassar. Bahkan di Indonesia hal ini sudah biasa terjadi. Dan lucunya, sepertinya penguasa memang melanggengkan hal ini terjadi. Taruhlah contoh peristiwa Toko La’. Atau kasus Benny di tahun 1995. Tidak dapat diredam dengan mudah oleh penguasa. Padahal pemerintah sendiri yang terus menerus mendengungkan program pengintegrasian masyarakat.
Lalu hari ini eksklusifitas terjadi dimana2. Orang yang mengaku pribumi hanya bergaul dengan pribumi. Orang cina hanya bergaul dengan cina. Lalu pertanyaan timbul, apakah orang cina sebagai pendatang merasa diri superior sehingga tidak ingin bergabung dalam komunitas pribumi? Ternyata jawabannya tidak. Konflik2 laten yang terpelihara sejak jaman baheula mempunyai andil besar dalam proses disintegrasi antar etnis yang terjadi di Makassar. Bahkan dalam kehidupan sehari2 kita dapat mendengar lelucon2 orang2 tentang orang cina. Hal inilah yang ternyata bukannya membuat orang cina menjadi merasa superior, malah menciptakan perasaan inferior dalam diri mereka sehingga terjadi sekat2 etnis dalam masyarakat. Rasa inferior ini yang kemudian menjadikan orang2 cina semakin tertutup bahkan dalam kegiatan ekonominya. Wajar saja jika kemudian roda perekonomian di Makassar dikuasai orang yang itu2 saja. Dan hal ini juga banyak memicu kecemburuan sosial karena orang cina yang dianggap pendatang ternyata menjadi majikan dari penduduk lokal. Tapi jika kita berkaca pada apa yang kita lakukan sehari2, seharusnya kita sadar bahwa secara tidak sadar kita sendirilah yang membuat sekat2 ini semakin tebal. Dan seharusnya masalah ini dapat terselesaikan bukan dengan cara pengepungan dan pengganyangan.
Proses integrasi di Indonesia bukan sekedar mimpi. Berkembangnya teknologi komunikasi dan kualitas pendidikan seharusnya membuat kita sadar bahwa semestinya tidak usah lagi ada etnis Superior ataupun Inferior. Seharusnya yang kita tuntut adalah agar kita memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan setiap fasilitas yang kita butuhkan. Bukannya malah kembali ke jaman batu dimana suku A dan suku B saling membenci dan berakhir di ujung parang.
Seharusnya budaya Siri’ yang dimiliki oleh orang lokal diperlakukan lebih intelektual dibanding hari ini.
diposkan 11 bulan yang lalu di prayudasaid.tumblr.com)
Selebaran itu menghimbau kepada semua orang untuk ikut mengepung dan melakukan pengganyangan terhadap masyarakat beretnis cina karena telah melecehkan salah satu warga toraja. Sy kemudian bertanya, apa beda suku toraja dan cina hari ini? Mereka sama2 lahir disini, besar disini, hidup disini, sama2 makan nasi, minum jg dari sumber air yang sama. Tapi kenapa mesti ada yang pribumi ada yang pendatang? KTP pun sama2 keluaran Indonesia, tapi kenapa harus ada yang diganyang? Kenapa sensitifitas etnis selalu dijaga? Kenapa perbedaan selalu diperuncing?
Tadi sore saya sempat mengobrol dengan salah seorang kawan tentang masalah ini. Kami memperbincangkan soal banyaknya ekslusi antar etnis yang terjadi di Indonesia pada umumnya dan Makassar pada khususnya. Lucu juga mendengar bagaimana dengan gampangnya orang tersulut untuk melukai dan bahkan membunuh orang2 di luar etnisnya hanya karena masalah yang sebenarnya tidak akan seperti itu jika yang melakukan adalah sesama etnisnya. Saya jd ingat film “Rush Hour”. Bagaimana sangat berbeda respon orang2 kulit hitam waktu mendengar Chris Tucker yang berkata “What’s up my nigga?” dengan sewaktu Jackie Chan yang menyebutkannya. Kenapa orang begitu reaktif terhadap hal2 yang sebenarnya cukup sepele.
Kembali ke konflik pribumi dan non pribumi di Makassar. Konflik berbau rasial memang bukanlah hal yang pertama terjadi di Makassar. Bahkan di Indonesia hal ini sudah biasa terjadi. Dan lucunya, sepertinya penguasa memang melanggengkan hal ini terjadi. Taruhlah contoh peristiwa Toko La’. Atau kasus Benny di tahun 1995. Tidak dapat diredam dengan mudah oleh penguasa. Padahal pemerintah sendiri yang terus menerus mendengungkan program pengintegrasian masyarakat.
Lalu hari ini eksklusifitas terjadi dimana2. Orang yang mengaku pribumi hanya bergaul dengan pribumi. Orang cina hanya bergaul dengan cina. Lalu pertanyaan timbul, apakah orang cina sebagai pendatang merasa diri superior sehingga tidak ingin bergabung dalam komunitas pribumi? Ternyata jawabannya tidak. Konflik2 laten yang terpelihara sejak jaman baheula mempunyai andil besar dalam proses disintegrasi antar etnis yang terjadi di Makassar. Bahkan dalam kehidupan sehari2 kita dapat mendengar lelucon2 orang2 tentang orang cina. Hal inilah yang ternyata bukannya membuat orang cina menjadi merasa superior, malah menciptakan perasaan inferior dalam diri mereka sehingga terjadi sekat2 etnis dalam masyarakat. Rasa inferior ini yang kemudian menjadikan orang2 cina semakin tertutup bahkan dalam kegiatan ekonominya. Wajar saja jika kemudian roda perekonomian di Makassar dikuasai orang yang itu2 saja. Dan hal ini juga banyak memicu kecemburuan sosial karena orang cina yang dianggap pendatang ternyata menjadi majikan dari penduduk lokal. Tapi jika kita berkaca pada apa yang kita lakukan sehari2, seharusnya kita sadar bahwa secara tidak sadar kita sendirilah yang membuat sekat2 ini semakin tebal. Dan seharusnya masalah ini dapat terselesaikan bukan dengan cara pengepungan dan pengganyangan.
Proses integrasi di Indonesia bukan sekedar mimpi. Berkembangnya teknologi komunikasi dan kualitas pendidikan seharusnya membuat kita sadar bahwa semestinya tidak usah lagi ada etnis Superior ataupun Inferior. Seharusnya yang kita tuntut adalah agar kita memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan setiap fasilitas yang kita butuhkan. Bukannya malah kembali ke jaman batu dimana suku A dan suku B saling membenci dan berakhir di ujung parang.
Seharusnya budaya Siri’ yang dimiliki oleh orang lokal diperlakukan lebih intelektual dibanding hari ini.
diposkan 11 bulan yang lalu di prayudasaid.tumblr.com)